oleh : Erwan Suryanegara bin H Asnawi*
KOMERING merupakan salah satu suku atau wilayah budaya di Sumatra
Selatan, yang berada di sepanjang aliran Sungai Komering. Seperti halnya
suku-suku di Sumatra Selatan, karakter suku ini adalah penjelajah
sehingga penyebaran suku ini cukup luas hingga ke Lampung.
Suku Komering terbagi beberapa marga, di antaranya marga Paku
Sengkunyit, marga Sosoh Buay Rayap, marga Buay Pemuka Peliyung, marga
Buay Madang, dan marga Semendawai. Wilayah budaya Komering merupakan
wilayah yang paling luas jika dibandingkan dengan wilayah budaya
suku-suku lainnya di Sumatra Selatan. Selain itu, bila dilihat dari
karakter masyarakatnya, suku Komering dikenal memiliki temperamen yang
tinggi dan keras.
Berdasarkan cerita rakyat di masyarakat Komering, suku Komering dan
suku Batak, Sumatra Utara, dikisahkan masih bersaudara. Kakak beradik
yang datang dari negeri seberang. Setelah sampai di Sumatra, mereka
berpisah. Sang kakak pergi ke selatan menjadi puyang suku Komering, dan
sang adik ke utara menjadi puyang suku Batak.
Berdasarkan temuan dan analisa sejarah, Dusun Minanga Tuha, di daerah
marga Semendawai Suku I, atau dusun keenam dari Dusun Gunung Jati
diperkirakan merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya bagian awal. Sedangkan
Palembang diyakini sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya bagian tengah, dan
Jambi sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya bagian akhir. Kala itu, Minanga
Tuha, sebagai kota pelabuhan, atau tempat berlangsungnya aktivitas
bongkar dan muat barang serta bersandarnya kapal-kapal Sriwijaya maupun
kapal-kapal asing yang memiliki baik hubungan dagang, politik, budaya,
maupun religi dengan Sriwijaya.
Sejak abad pertengahan, suku Komering, sama halnya dengan rumpun
Melayu lainnya, menerima Islam sebagai sebuah agama dan kepercayaan.
Kedatangan Islam itu melahirkan mitos. Mitosnya mengenai seorang
panglima dari bala tentara Fatahilah, Banten, bernama Tandipulau, yang
menjadi tamu di daerah marga Semendawai Suku III. Ia datang menggunakan
perahu menelusuri Sungai Komering. Tandipulau berlabuh dan menetap di
daerah marga Semendawai Suku III, tepatnya di Dusun Kuripan. Keturunan
Tandipulau membuka permukiman baru di seberang sungai atau seberang
dusun Kuripan, yang disebut Dusun Gunung Jati. Selanjutnya, marga
Semendawai disebut keturunan Tandipulau dari Dusun Kuripan.
Tandipulau dalam bahasa Komering berarti ‘tuan di pulau’. Makamnya, yang
terletak di Dusun Kuripan, hingga kini masih terpelihara. Masyarakat
Komering, khususnya marga Semendawai, sering berziarah kubur ke makam
tersebut.
Rumah tradisi Komering
Salah satu tanda kebudayaan Komering dari masa lalu, yang hingga kini
tetap terjaga adalah rumah. Pada masyarakat Komering, khususnya marga
Semendawai, memiliki atau mengenal dua jenis rumah tempat tinggal yang
bersifat tradisional, yakni rumah ulu dan rumah gudang.
Berdasarkan struktur bangunan, antara rumah ulu dan rumah gudang pada
prinsipnya sama, tapi pembangunan rumah gudang umumnya cenderung
mengalami beberapa modifikasi, dan tidak patuh lagi seperti rumah-rumah
ulu, terutama untuk arah hadap seperti hulu (utara), liba(selatan),
darak (barat), dan laok (timur). Perbedaan lainnya, pada rumah gudang,
selalu dibuat atau ada ventilasi yang posisinya tepat berada di atas
setiap pintu dan jendela, sedangkan pada rumah ulu tidak mengenal
ventilasi udara.
Baik rumah gudang maupun rumah ulu merupakan jenis rumah panggung
atau rumah yang memiliki tiang penyangga. Bahan utama pembuatan rumah
gudang dan ulu adalah kayu atau papan.
Lantaran rumah gudang Komering lebih muda jika dibandingkan dengan
rumah ulu, rumah ini sudah mengenal dan menerapkan kombinasi antara
bahan kayu dan paku, kaca, cat, porselen atau marmer, genteng, dan
semen. Misalnya banyak tangga atau disebut ijan mukak rumah gudang yang
terbuat dari semen berlapis keramik, atau daun pintu dan jendelanya
sudah dikombinasikan dengan kaca. Bahkan, kecenderungan akhir-akhir ini,
rumah gudang sudah menggunakan tiang penyangga teknik cor beton dan
atau batu bata, yang sebelumnya dari gelondong. Dan, di antara tiang
rumah umumnya sudah pula diberi dinding semi permanen atau permanen,
kemudian dijadikan tempat tinggal atau lambahan bah (rumah bawah).
Mengingat bahan kayu yang saat ini semakin langka dan mahal, tampaknya
masyarakat Komering lebih banyak memilih atau membangun jenis rumah
gudang.
Rumah ulu sepenuhnya menggunakan bahan kayu atau papan. Tiang
penyangga menggunakan gelondongan, lalu tangga, dinding, pintu, dan
jendela menggunakan papan. Atap rumah dibuat dari daun enau dengan
teknik rangkai-tumpuk. Tapi mengingat daya tahan dan gampang terbakar,
sekarang atap daun enau ini diganti atap genteng.
Sambungan kayu pada rumah ulu tidak menggunakan paku, tetapi
menggunakan pasak kayu atau bambu, termasuk untuk engsel pintu, dan
jendelanya juga masih menggunakan teknik engsel pasak. Mengingat bahan
kayu yang saat ini mahal dan langka, sejak tiga dasawarsa terakhir,
masyarakat Komering mulai jarang membangun rumah ulu.
Berdasarkan struktur bangunannya, rumah ulu terbagi atas tiga bagian,
yakni bagian depan (garang), rumah bagian tengah atau utama (ambin,
haluan, dan kakudan) serta rumah bagian belakang (pawon). Bagi
masyarakat Komering, rumah tengah atau utama bersifat sakral, sedangkan
garang atau pawon bersifat profan sehingga pada pintu depan (rawang
balak) dari garang ke haluan, dan juga pada pintu belakang (rawang
pawon) dari kakudan ke pawon, konstruksi kusen pintunya dibuat tinggi
atau ada langkahan (ngalangkah). Rumah tengah atau utama dibagi menjadi
tiga ruang, yaitu ambin atau kamar tidur, haluan, dan kakudan.
Berdasarkan struktur lantai pada rumah ulu, dapat diketahui setiap
ruang memiliki hierarkis yang ditandai peninggian atau merendahkan
lantai ruangannya.
Ambin memiliki kedudukan yang tertingggi (dunia atas), selanjutnya
haluan dan kakudan (dunia tengah) serta garang dan pawon (dunia bawah).
Untuk lantai haluan sama tinggi dengan lantai kakudan , dan di antara
keduanya tidak terdapat dinding.
Berdasarkan hierarki rumah ulu, haluan memiliki tingkatan yang sama
dengan kakudan, namun keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Haluan
(perempuan) dan kakudan (laki-laki). Sebagai penanda bahwa adanya
perbedaan fungsi antara haluan dan kakudan, di antara lantai haluan dan
kakudan diberi kayu balok panjang yang posisinya melintang, dan di
atasnya ada sangai (tiang), sebagai perantara haluan dengan kakudan.
Sedangkan untuk lantai garang dan pawon (dunia bawah) posisinya
paling rendah baik dari lantai ambin, haluan, maupun kakudan. Haluan
posisinya berada di tengah-tengah rumah ulu, diapit dari arah sebelah
laok-darak (barat-timur) dan hulu-liba/hilir (utara-selatan), yakni oleh
ambin-kakudan dan garang-pawon.
Ambin (kamar tidur) memiliki kedudukan tertinggi dan suci, sejalan
dengan pandangan masyarakat Komering bahwa keluarga harus dijunjung
tinggi kesucian dan kehormatannya. Karenanya, dalam struktur rumah ulu,
posisi ambin di sebelah laok (barat=arah salat/kiblat).
Haluan adalah perempuan, sedangkan kakudan adalah laki-laki, itulah
sebabnya balai pari (lumbung padi = perempuan) posisinya tepat di bawah
haluan, dan kandang hewan berada di bawah kakudan (tanduk =laki-laki).
Dalam sebuah acara adat yang disebut Ningkuk, haluan hanya
diperuntukkan bagi perempuan dan kakudan tempat laki-laki. Jika ada
pemuda yang bertamu ke rumah seorang gadis, si pemuda hanya boleh duduk
di kakudan, dan si gadisnya harus berada di haluan. Untuk tamu yang baru
dikenal biasanya akan dijamu di garang, sedangkan untuk tamu-tamu yang
sudah dikenal baik oleh tuan rumah, biasanya akan dipersilakan masuk
dengan melangkah rawang balak (hubungan darah dan mentalitas kelompok
atau keluarga).
Dalam upacara adat melamar, ketika pihak keluarga calon besan
mempelai laki-laki baru datang, terlebih dahulu mereka akan ditempatkan
di garang, setelah menjalani beberapa prosesi, barulah rombongan dapat
dipersilakan masuk ke rumah tengah atau utama, dalam hal ini haluan
untuk perempuan dan kakudan bagi laki-laki. Demikian pula pada saat akan
melangsungkan akad nikah, posisi duduk calon mempelai laki-laki harus
di kakudan, sedangkan calon mempelai wanita di haluan. Setelah selesai
akad nikah, baru kedua mempelai dipersandingkan di pelaminan yang berada
di ruang haluan, posisi atau arah hadap pelaminan tempat kedua mempelai
bersanding biasanya ke utara atau hulu.
* Erwan Suryanegara bin H Asnawi, perupa
Sumber: Media Indonesia, Minggu, 23 Oktober 2007
kalau orang Komering khususnya yang tua-tua ditanya darimana
asal-usul mereka, maka jawabannya dari daerah Segara Brak/Skala Brak
yang ada di Lampung Barat, dan seluruh orang Lampung pun percaya mereka
berasal dari sana. Orang Kayu Agung sendiri berasal dari Lampung Suku
Abung Buay Kunang dan orang Muncak Kabau berasal dari Negeri Besar Way
Kanan Buay Pemuka Bangsa Raja, orang Ranau asalnya dari Liwa dan
lain-lain nya.
disadur dari : http://achmadyani.wordpress.com/category/budaya-dan-etnis-komering/